Saturday, July 2, 2016

yang menarik saat italia singkirkan spanyol

 KOMPAS.com — Berakhirlah kiprah Spanyol pada Piala Eropa 2016. Sang juara bertahan tersingkir setelah kalah 0-2 dari Italia pada babak 16 besar di Saint-Denis, Senin (27/6/2016).
Gagalnya Spanyol mempertahankan gelar serta keberhasilan Italia melangkah ke babak perempat final menyisakan beberapa hal menarik.
Berikut 5 hal menarik yang bisa dipetik dari laga tersebut.
1. Juventus "musuh" Spanyol, Pelle spesialis menit akhir
Gol pertama Italia ke gawang Spanyol dicetak oleh bek Juventus, Giorgio Chiellini. Kejadian itu melahirkan tradisi kontribusi cemerlang pemain Juventus bagi tim nasional mereka ketika menghadapi Spanyol.
Sejak era 1980-an, Chiellini menjadi pemain Juventus keempat yang menjebol gawang Spanyol pada Piala Eropa.
Ia menyusul Michel Platini (Perancis; 1984), Michael Laudrup (Denmark; 1988), dan Zinedine Zidane (Perancis; 2000).
Khusus untuk Chiellini, dia menjadi bek pertama Italia yang mencetak gol pada putaran final Piala Eropa sejak Christian Panucci lawan Romania pada 2008.
Sementara itu, pencetak gol kedua Italia, Graziano Pelle, menegaskan diri sebagai spesialis penjebol gawang musuh pada menit-menit akhir.
Pelle mencetak dua gol di Perancis 2016, semuanya muncul padainjury time. Sebelum ke gawang Spanyol, Pelle menceploskan gol "larut" saat bersua Belgia di fase grup.
2. Nolito bukan sekelas predator
Nolito's game by numbers vs. 

4 misplaced passes
0 shots
0 chances created
0 take-ons
0 crosses completed
Penyerang Spanyol, Nolito, tampil baik sepanjang fase grup. Sebelum memasuki babak 16 besar, striker Celta Vigo itu mencetak lima gol dalam 12 partai timnas.
Akan tetapi, Nolito bukan sekelas penyerang bertipe predator yang diharapkan Spanyol. Ia tak berkutik kala ditempel pemain-pemain berkarakter fisik khas Italia.
Sepanjang babak pertama, pemain berusia 29 tahun itu tak dibiarkan melepas tembakan, umpan silang, atau menciptakan peluang bagi rekan setim.
Ia ditarik keluar dan digantikan Aritz Aduriz pada babak kedua.
3. Tak salah De Gea jadi pilihan utama  
View image on TwitterView image on Twitter
De Gea keeps the score down just before half
Akan tetapi, keputusan pelatih Vicente del Bosque sepertinya tepat. Walau kebobolan dua kali, De Gea tampil heroik mencegah timnya kebobolan lebih banyak.
Kiper Manchester United itu melakukan sederet penyelamatan akrobatik. Total, De Gea mencatat lima saves krusial sepanjang laga.
4. Gawang Buffon masih steril
Kiper Italia, Gianluigi Buffon, memastikan gawangnya tetap steril pada Piala Eropa 2016.
Sebelum di babak 16 besar, ia mencatat clean-sheet pada laga fase grup lawan Belgia (2-0) dan Swedia (1-0).
Satu-satunya kebobolan Italia di grup bersarang ke gawang kiper kedua, Salvatore Sirigu, ketika dikalahkan Irlandia (0-1).
Saat melawan Spanyol, Buffon melakukan lima penyelamatan. Ia harus berterima kasih berkat pertahanan tangguh yang digalang Chiellini cs.
Ditinjau dari skala lebih luas, Italia juga mengukir rekor laga tanpa kebobolan terbanyak di antara semua peserta Piala Eropa sepanjang sejarah dengan jumlah 19 clean-sheet.
5. Kutukan kostum putih Spanyol berlanjut
UEFA EURO
Sudah beredar analisis berbau klenik yang mengungkap kutukan Spanyol yang sering kalah saat memakai kostum putih pada turnamen besar (Piala Dunia dan Piala Eropa).
Tradisi itu berlanjut sampai babak 16 besar Piala Eropa 2016 akibat kekalahan dari Italia.

Sebelumnya, kutukan itu melanda mereka saat meladeni musuh yang sama, Italia (Piala Dunia 1994), lalu Nigeria (PD 1998), Portugal (Piala Eropa 2004), Belanda (PD 2014), dan Kroasia (Piala Eropa 2016

Kekalahan Jerman dari Italia di Turnamen Resmi 4 kali

BORDEAUX, KOMPAS.com - Tim nasional Jerman punya rekor buruk ketika menghadapi Italia pada turnamen resmi. Der Panzer, julukan Jerman, bakal mencoba mengakhiri tren negatif itu saat menghadapi Gli Azzurri - julukan Italia - pada perempat final Piala Eropa 2016, Sabtu (2/7/2016) malam. 
Berdasar Weltfussball, Jerman dan Italia sudah 33 kali bertemu. Dari rekor pertemuan, Der Panzer lebih inferior karena hanya menang 8 kali berbanding 15 kekalahan yang diderita dari Italia.
Gli Azzurri terlihat sangat superior atas Jerman ketika bertanding di turnamen resmi. Dari 8 pertandingan di Piala Dunia dan Piala Eropa, Italia menang empat kali dan tak pernah menderita kekalahan.
Kekalahan pertama Jerman dari Gli Azzurri terjadi pada semifinal Piala Dunia 1970. Der Panzer yang saat itu masih berbendera Jerman Barat kalah 3-4 lewat perpanjangan waktu.
Luka terakhir yang digoreskan Italia ke Jerman terjadi empat tahun lalu pada semifinal Piala Eropa 2012. Aksi Mario Balotelli mengantarkan Italia menang 2-1 atas Der Panzer.
Rekor Der Panzer cukup baik pada laga persahabatan, menang 8 kali dan kalah 11 kali. Terbaru, mereka menang 4-1 pada laga uji coba jelang Piala Eropa 2016 pada Maret lalu.
Selang tiga bulan, kedua tim akan kembali bertemu di Piala Eropa 2016. Stadion Nouveau de Bordeaux akan menjadi saksi bisu akankah Italia bisa terus menjaga tren positif atas Jerman di turnamen resmi? Atau justru Jerman berhasil mengakhiri kutukan?
Berikut 4 kekalahan Jerman dari Italia pada putaran final turnamen antarnegara:
17 Juni 1970, semifinal Piala Dunia 1970 - Italia 4-3 Jerman Barat(Roberto Boninsegna 8', Tarcisio Burgnich 98', Luigi Riva 104', Gianni Rivera 111' ; Karl-Heinz Schnellinger 90', Gerd Mueller 94', 110')
Tajuk "Laga Abad Ini" diberikan publik pada pertandingan semifinal Piala Dunia 1970 antara Jerman Barat dan Italia ini. Hal itu merujuk drama yang terjadi saat kedua tim saling mencoba mengatasi ketertinggalan.
Sampai-sampai, pertandingan ini dibuatkan plakat khusus dan ditempatkan di depan Stadion Azteca yang menjadi tempat pertandingan.
Pada laga ini, Franz Beckenbauer terpaksa memaksakan diri tampil dengan mengalami dislokasi bahu lantaran Jerman sudah melakukan dua pergantian, batas maksimum substitusi kala itu.

Saturday, June 4, 2016

Muhammad Ali Meninggal Dunia

Berita Terkini Hari Ini : Berita Duka, Petinju Legendaris Dunia Muhammad Ali Meninggal Dunia

   
1127
Berita Terkini Hari Ini : Berita Duka, Petinju Legendaris Dunia Muhammad Ali Meninggal Dunia
Advertisement
INDOBERITA.com – Berita Terkini Hari Ini : Berita Duka, Petinju Legendaris Dunia Muhammad Ali Meninggal Dunia
LOS ANGELES – Petinju Legendaris Muhammad Ali meninggal dunia pada jumat (3/6) menurut juru bicara keluarga Bob Gunnell dalam sebuah pernyataan.
“Setelah 32 tahun berjuang melawan penyakin Parkinson, Muhammad Ali meninggal dunia pada usia 74 tahun,” kata kata Gunnell seperti dikutip kantor berita AFP.
Gunnell mengatakan kepada NBC News bahwa Ali meninggal di sebuah rumah sakit di Phoenix,
“Hati saya sangat sedih namun sekaligus mengapresiasi dan lega pria paling hebat itu kini beristirahat di tempat terbaik,” kata petinju Roy Jones Jr. di akun Twitter-nya, sebagaimana dikutip kantor berita Reuters.
Ali sudah lama menderita sindrom Parkinson, sehingga mantan atlet itu sulit berbicara dan hampir terpenjara dalam tubuhnya sendiri. Dan pekan ini Ali menjalani perawatan di rumah sakit karena sakit pernafasan.
Ia memproklamirkan diri sebagai “yang terhebat”, “yang paling superior” dan “paling ahli.”
Hanya sedikit yang bisa mendebatnya pada masa puncak karirnya tahun 1960an. Dengan kaki menari dan pukulan tinju cepat ia menyebut dirinya bisa melayang seperti kupu-kupu dan menyengat seperti lebah.
Ali lahir di Louisville, Kentucky, pada 17 Januari 1942 dengan nama Cassius Marcellus Clay Jr. Ia kemudian mengganti namanya menjadi Muhammad Ali setelah masuk Islam.
Ali tinggal bersama istrinya Lonnie Williams, yang mengenalnya ketika dia masih kecil di Louisville, serta sembilan anaknya.
Sumber : antaranews.com